Kamis, 14 Agustus 2008

Idealisme Menyiapkan Satu Lapis Generasi Masa Depan

Cerdas, muda, dan gagah, boleh jadi Anies Baswedan termasuk dalam jajaran rektor paling muda di Indonesia. Di usianya yang masih tiga puluhan, dia sudah memimpin Universitas Paramadina sebagai seorang rektor. Bersama rekan-rekannya sesama pengajar, yang juga berusia setara, pria yang sebelumnya dikenal sebagai pengamat politik ini menyimpan tekad mengantarkan Paramadina menjadi universitas kelas dunia. Lewat perpaduan visi, ide-ide segar khas anak muda, kecerdasan dan ideologi, serta rasa bangga sebagai anak Indonesia, Anies dan rekan-rekannya menyiapkan generasi muda masa datang. Kepada wartawan Republika, Rachmat Santosa Basarah dan Siti Darojah Sri Wahyuni, Anies Baswedan mengungkapkan gagasannya. Berikut petikannya.

Anda dulu dikenal sebagai pengamat politik. Kok sekarang terjun di dunia pendidikan?
Dunia pendidikan itu bukan dunia asing. Saya tumbuh besar di keluarga pendidik. Orang tua saya adalah dosen dan kami tinggal 500 meter dari kampus di Yogyakarta. Ayah saya, dosen dan wakil rektor di Universitas Islam Indonesia. Dan, Ibu saya, guru besar di Universitas Negeri Yogyakarta. Hanya, memang ketika kuliah di luar negeri, subjek yang menjadi kajian saya ialah bidang politik.

Tapi, waktu di Amerika dan mengambil program PhD, saya bekerja sebagai asisten dosen. Jadi, ketika kemudian saya diberi amanah untuk mengelola universitas bukanlah dunia baru. Tapi, tentu saja ini memang sebuah amanah besar dan baru.

Lama tinggal dan mengajar di Amerika, konsep apa yang bisa diadopsi di Indonesia?
Yang bisa kita adopsi dari dunia Barat, lebih pada manajemennya. Pengelolaan universitas di negara-negara Barat sudah sangat efisien, terukur, dan modern. Kemudian komponen strategi, bagaimana universitas itu dibangun. Sebagai contoh, ketika saya masuk Paramadina, saya katakan kualitas universitas sangat ditentukan oleh dosen dan mahasiswa. Dosen alhamdulillah sangat berkualitas, kita harus usahakan peningkatan kualitas mahasiswa yang masuk.

Jadi, tanggung jawab universitas itu mulai dari rekrutmen sampai pasca lulus. Supaya kualitasnya baik, universitas memberi beasiswa. Ada beasiswa penuh untuk seratus mahasiswa berpotensi. Jadi, penerima bea-siswa itu sebelum masuk universitas sudah tahu bahwa biaya empat tahun ke depan, aman. Yang penting, kinerja akademiknya baik. Ini satu teknik yang banyak dipakai universitas modern, terutama di negara Barat mengingat tingginya biaya pendidikan.

Untuk pendanaannya, kita membaca peluang di swasta. Kita ajak dunia swasta untuk berperan serta di universitas. Umumnya, universitas di Indonesia cari dana secara tradisional dengan mengatakan bahwa ini usaha mulia, maka tolong dong dibantu, Insya Allah nanti anda mendapatkan pahala. Ya, ini juga penting. Tapi, agar bisa langgeng kita harus ada model bisnis yang modern. Universitas harus dikelola secara modern dan terkait dengan dunia swasta secara mutualistis, bukan berdasarkan belas kasihan. Untuk komponen nilai, kita punya sendiri. Kita tidak mau berkompromi soal nilai-nilai. Kita tetap sebagai Muslim, modern, dan Indonesia. Bukan western. Dalam cara dan teknik, kita boleh meniru mereka. Dalam substansi, kita harus berakar di nilai-nilai kita. Contohnya, Jepang yang melakukan modernisasi selama seratus tahun lebih, tetapi tetap mempertahankan akar budayanya. Kita ingin tunjukkan bahwa kita juga bisa.

Beasiswa ini untuk mahasiswa tidak mampu atau mahasiwa berprestasi?
Kami memilih yang berprestasi dari seluruh Indonesia. Persyaratannya tidak harus miskin. Banyak anak yang berpotensi, tapi tidak mampu. Besarnya beasiswa untuk masa kuliah empat tahun adalah Rp 65 juta untuk yang dari Jakarta dan Rp 100 juta untuk mahasiswa dari luar Jakarta. Seleksinya ketat karena kami hanya menerima yang terbaik. Ini sebuah ikhtiar untuk meringankan beban anak-anak yang potensial. Meminjam istilah Cak Nur (Alm Nurcholish Madjid, pendiri Paramadina--Red), yaitu tempat persemaian manusia baru, maka di sini kami ingin manusia baru yang potensial.

Mengapa demikian?
Coba bayangkan, siapa kompetitor--lawan anak-anak muda ini yang sekarang masih SMA 10-15 tahun ke depan dan yang kuliah di Paramadina, UI, UGM, ataupun Trisakti? Bukan sesama universitas itu. Kompetitor mereka orang Indonesia yang lulusan Melbourne, Sidney, Tokyo, San Fransisco, LA, dan New York. Bukan orang asing, tapi anak muda Indonesia yang sekolah di luar negeri.

Mereka itu minimal punya empat hal. Pertama, ilmu pengetahuan yang lebih baru; kedua, keterampilan bahasa sementara pemimpin mahasiswa di tempat kita kalau ditanya dengan bahasa asing langsung tumbang; ketiga, kekuatan networking internasional yang mahal sekali nilainya. Keempat, mereka yang sekolah di luar negeri tentu saja punya capital. Perpaduan dari keempat hal itu, mereka punya confidence yang luar biasa dalam menyongsong masa depan. Nah, mereka akan berbondong-bondong pulang ke Indonesia dan ketika mereka pulang bisa mendominasi. Kalau sekarang kita melihat Ikatan Alumni UI dan Ikatan Alumni Gadjah Mada sebagai ciri lulusan dominan, ke depan kita akan saksikan ikatan alumni mahasiswa Jepang, ikatan alumni Amerika, dan lainnya yang mendominasi. Pada sisi lain, ASEAN Free Trade Area akan aktif lebih awal dari jadwalnya. Konsekuensinya ada pergerakan tenaga kerja asing ke dalam negeri. Tengok saja sekarang stasiun pompa bensin asing seperti Shell dan Petronas sudah masuk di mana-mana. Kita diuntungkan karena kemudian Pertamina menaikkan kualitas. Tapi, nanti ketika kompetisinya di tingkat individual, bukan korporasi. Jika kalah dari profesional asing secara sistematis dan kolektif, saya khawatir akan muncul anak-anak muda frustrasi dan marah. Ini karena pendidikan dan persiapan yang dimiliki sekarang ini tidak didesain untuk membuat mereka menang dan dominan di masa depan.

Jadi, gagasan memberi beasiswa itu bagian dari sebuah desain atau idealisme yang besar?
Ya, makanya, saya bersyukur sekali sekarang ada di dunia pendidikan tinggi. Saya merasa ini sebuah tanggung jawab, bukan berbicara tentang satu dua individu mahasiswa, tapi satu lapis generasi untuk mengantisipasi dan mengatasi masa depan lebih baik, supaya kita menjadi pemenang dan tuan rumah di negeri sendiri. Bagi saya, pendidikan tinggi punya posisi strategis.

Sayangnya, banyak pengelola pendidikan tinggi yang belum melihat dalam konteks Indonesia panjang ke depan, melainkan sekadar dalam konteks peluang bisnis jangka pendek atau menawarkan ijazah. Ini praktik industrialisasi pendidikan yang cuma menghasilkan pemegang ijazah yang akan menjajakan ilmunya, lalu menjual ke pembeli yang membeli harga paling tinggi. Bukan menghasilkan orang baru yang dalam bayangan kita menjadi pendorong kemajuan bangsa.

Menerjemahkan idealisme itu dalam sebuah universitas, itu adalah tantangannya. Saya melihat sudah saatnya kita terjemahkan idealisme, gagasan abstrak yang besar-besar itu. Kalau itu bisa kita lakukan, kita bisa buktikan pada semua kalangan bahwa idealisme bisa diterjemahkan, konkret, dan market oriented sehingga bisa hidup & berkembang. Itu bisa. Tidak selamanya idealisme bergerak di wilayah abstrak.

Di tengah banyaknya universitas negeri unggulan membuka jalur mandiri atau menjaring mahasiwa dari kelompok menengah atas, sepertinya ide Anda agak melawan arus?
Saya melihat universitas negeri, sebenarnya punya amanah konstitusi untuk mendidik masyarakat. Sementara yang swasta, sebenarnya lebih punya hak untuk menarik pendidikan lebih tinggi. Tapi, kami tidak. Universitas Paramadina tidak didirikan untuk mengantisipasi peluang bisnis. Tidak didirikan untuk itu dan tidak pernah didirikan untuk itu. Universitas ini didirikan dengan idealisme menjadi persemaian manusia baru. Hanya perlu menerjemahkan dalam bahasa yang lebih konkret. Harus diantisipasi dengan kerja lebih keras. Misalnya, mencarikan mahasiwa beasiswa itu kerja ekstra universitas. Yang dapat beasiswa itu mahasiswa.

Kalau universitas bermutu yang ternama dan terkenal di negeri ini mau bekerja sedikit lebih berat, mereka bisa dapat lebih banyak dari kita. Kita datangi pihak-pihak swasta dan kita katakan bahwa mereka nanti adalah pengguna dari hasil pendidikan itu. Kita katakan begini, ''Anda yang mendapatkan manfaat. Jadi, invest dong pada mereka, didik mereka.'' Jadi, sudah saatnya kita berpikir outside the box. Jangan hanya menjual nama besar universitas terkenal. Lalu, anak-anak yang ingin masuk dicharge dengan rupiah yang setinggi-tingginya. Saya khawatir kelas menengah kita, makin hari makin menipis. Karena, ongkos sekolah yang meroket, suplai dari kelas bawah yang bisa naik menjadi kelas menengah, itu makin sedikit. Padahal, pendidikan adalah jalur bagi kelas sosioekonomi bawah bisa naik ke kelas diatasnya.
Kita harus menyiapkan pendidikan tinggi dari anak-anak kita yang sudah wajib sekolah sembilan tahun ini. Betapa frustrasinya seorang anak lulusan SMA terbaik, mau mendaftar ke kampus saja tidak punya biaya, bahkan sekadar ongkos perjalanan untuk mendaftar pun tidak punya. Kita harus buka akses itu.

Apakah Anda juga melihat adanya kecenderungan pendidikan tinggi di Indonesia lebih sebagai peluang usaha?
Masyarakat itu ada tiga komponen; state, civil society, dan market. Nah, pendidikan ini bergeraknya di wilayah civil society. Bicara civil society harus dengan spirit civil society. Tapi, ketika berbicara pengelolaan, kita tidak bisa lagi mengelola model gotong-royong. Bicara manajemen harus yang modern. Siapa yang mengembangkan manajemen modern? Pasar. Karena di pasar itu ada istilah bottom line, plus atau minus, untung atau rugi. Karena itu manajemen mereka jadi maju untuk menghindari minus. Nah, universitas itu bergerak di civil society, tapi manajemennya harus meniru manajemen modern yang diterapkan di pasar. Tapi, kita tidak ingin meniru prinsip-prinsip pasar dalam mendidik dan dalam dunia pendidikan.

Pendidikan seperti apa yang Anda terapkan di Paramadina ini?
Di sini mahasiwa dididik dengan dua track. Track pertama adalah akademis. Nanti ketika mereka selesai, muncul transkrip nilai. Track kedua, adalah pengembangan life-skills. Jadi, kita wajibkan mahasiswa per semester itu mengikuti workshop atau training yang kita selenggarakan gratis. Ini bekal keterampilan untuk menghadapi hidup. Kami juga merekam kegiatan organisasi mahasiwa. Saat lulus kuliah, mereka punya dua transkrip, yakni akademis dan workshop serta pengalaman organisasi. Ini amat membantu menstrukturkan pengalaman mereka selama kuliah dan membangun kepercayaan diri.

Saya selalu katakan, IP saja tidak cukup. IP tidak harus terlalu tinggi. Namun, harus di atas syarat minim beasiswa S-2. IP tinggi menghasilkan panggilan wawancara kerja, tapi sesungguhnya pengalaman kepemimpinan dan organisasi yang menentukan dapat tidaknya pekerjaan dan masa depan.

Akan dibawa ke mana konsep Paramadina ini sepeninggal Cak Nur yang dianggap menjadi 'pelindung' bagi gagasan Islam liberal?
Universitas ini bukan pelindung gagasan Islam liberal. Di sini, tidak ada kecenderungan untuk mengarahkan pada satu, dua pemikiran. Di sini, sebagaimana universitas modern lainnya diperdebatkan berbagai pemikiran dan menghargai kebebasan mimbar akademis. Saya pikir, kita harus mulai berani untuk membuka diri dalam menghadapi perbedaan-perbedaan pemikiran. Saya rasa ada juga yang harus diluruskan, dalam berbagai tulisan, kritik Cak Nur terhadap liberalisme itu juga sangat kuat. Kita ingin menjadikan universitas di Indonesia yang bernilai Islam, berwawasan ke-Indonesiaan dan kemodernan. Kita ingin menempatkan universitas kelas dunia dalam sekitar 20-an tahun ke depan. Jadi, warisan Cak Nur yang dikembangkan dalam hal pendidikan tinggi.

Kami ingin menempatkan agar Muslim mainstream tampil di Indonesia. Jangan kemudian didominasi dengan ekstrem religious maupun liberal yang selama ini jauh lebih vokal.

Berapa lama target menjadikan kampus ini untuk menjadi katakanlah 50 top kampus dunia?
Kita bayangkan sekitar 20 tahun. Tapi, Anda bayangkan di AS saja ada 50 negara bagian. Kalau tiap negara bagian punya tiga saja kampus yang luar biasa bagus, berarti sudah 150. Nah, di Eropa ada 30-an negara. Kalau sebuah negara saja punya empat universitas terbaik, sudah 120. Nah, berarti kan peringkat satu sampai 270 sudah habis oleh mereka. Yang jelas ini tidak bisa seperti membalikkan telapak tangan, namun bertahap. Kita tidak membayangkan Paramadina yang ukurannya luar biasa besar. Kita bayangkan Paramadina ini ukurannya kecil. Kita adalah city university yang mahasiswanya lima ribuan yang memfokuskan pada bidang humaniora.

Saya merasa bersyukur, teman-teman di Paramadina ini mulai jajaran pimpinan hingga staf pengajar adalah anak-anak muda, rata-rata usianya 38 tahun yang hampir semuanya pernah merasakan berada di world class university. 90 persen tenaga pengajar disini Master atau Doktor. Jadi, ketika kita berbicara katakan fasilitas, kita semua punya gambaran fasilitas world class itu dan cara kerja seperti apa.

Kita juga menyiapkan dosen-dosen kita untuk melanjutkan ke S3. Pengembangan diri seorang dosen tidak diserahkan pada dirinya, tapi universitas. Contoh lain, kami mengadakan kerja sama dengan Harvard University di bidang Laboratorium Perdamaian Indonesia. Di sini kan kita banyak sukses mendamaikan konflik. Jadi, kita dan Harvard berpartner untuk menularkan pengalaman Indonesia membangun perdamaian (peace making). Prosesnya pun tidak sederhana. Mereka tidak mau bekerja sama dengan universitas yang hanya mau menumpang nama. Mereka minta teleconference antara Indonesia, Boston, Chicago, dan New York. Lalu, diskusi panjang dan mereka interviu kita secara detail. Mereka belum pernah mendengar nama Universitas Paramadina. Ya, wajar saja, kita baru berusia sepuluh tahun. Setelah semua proses, akhirnya deal.

Harian Republika,

Tidak ada komentar: