Kamis, 14 Agustus 2008

Optimisme Kolektif Bangsa Wajib Dibangun

Dalam usia yang belum genap 40 tahun,Anies Baswedan masuk 100 intelektual dunia versi jurnal Foreign Policy (FP) di Amerika Serikat. FP memasukkan nama Anis bersama ilmuwan Samuel Huntington, Francis Fukuyama, Thomas Friedman, dan sederet ilmuwan penting dunia lainnya. Lalu, apa tanggapan dan peran yang ingin dilakukan ke depan? Berikut wawancara SINDO dengan Anis Baswedan.

Anda masuk menjadi satu di antara 100 intelektual dunia versi jurnal FPAmerika?
Saya kaget, tidak mengira karena saya juga tidak tahu bahwa saya dinominasikan. Saya merasa masih banyak yang lebih pantas. Saya tidak tahu,saya nggak ngertiprosesnya.Kalau ada begini (penghargaan) ya anggap saja ini wakil Indonesia. Itu bukan karena saya,tapi karena Indonesianya.

Pendapat Anda tentang Jurnal FP sendiri?
Foreign Policy cukup dikenal dan dibaca luas. Ini (untuk referensi) kalau orang bicara masalah hubungan internasional,masalah global. Jurnal ini diterbitkan oleh Carnegie Endowment for International Peace, salah satu think tank yang berpengaruh di Amerika. Hasil ulasan cukup dikenal dan sangat kritis terhadap Bush (Presiden AS George W Bush). Jadi,ini sebuah think tank yang berseberangan dengan Bush.

Apakah sebelumnya Anda pernah mengirim tulisan ke Jurnal FP?
Tidak. Tidak. Saya lihat kalau dari daftar-daftar (nominator), seperti Paus Benedict XVI, Noam Chomsky, Fukuyama, Friedman, Huntington, Yusuf Qardhawi, dan Muhammad Yunus kelihatannya orang-orang itu tidak diminta untuk mengirim tulisan atau mengisi formulir.

Secara akademis,apa yang membedakan di luar negeri dengan di Indonesia?
Tradisi riset yang kuat.Yang menarik, kalau di institusi akademik internasional,seperti Amerika dan Eropa, mereka punya sumber daya yang cukup untuk melakukan kajian-kajian. Jadi,seseorang memunculkan pemikiran tidak spekulatif. Ada riset yang panjang. Barubaru ini muncul sebuah tulisan yang luas tentang lobi Israel di Amerika.

Itu ditulis Stephen Walt dan John Mearsheimer. Mereka begawan Ilmu Politik Internasional. Paper-nya itu setebal 82 halaman dan 42 halaman di antaranya adalah catatan kaki.Jadi,dia ingin membuktikan bahwa semua yang dia tulis tidak ada yang tidak punya data. Ini bukan jumlah referensinya, tapi footnote.

Bagaimana dengan riset-riset di Indonesia?
Di sini kita sudah memiliki sebagian riset, tetapi belum semuanya sehingga kadang-kadang kita sering berspekulasi. Misal,menyebutkan persentase korupsi sekian persen, tapi kita belum ada risetnya. Kemudian, ada kemenangan dalam pemilu di tiga atau empat tempat, lalu kita simpulkan menjadi tren.

Kekalahan di beberapa tempat kita simpulkan sebagai tren. Kecenderungan itu ada. Perdebatan akademik disana dimunculkan lewat jurnal-jurnal. Kalau di Indonesia,perdebatan keilmuan atau pemikiran biasanya di media massa.Jadi, media massa itu kira-kira 800 kata atau 900 kata maksimum.

Jadi, di sana sangat disiplin?
Tuntutan kita tidak seperti di negara lain. Kalau di sana, menjadi dosen harus ?publish or parish? .Anda harus menerbitkan tulisan jurnal atau buku. Jika tidak,Anda hilang.Jadi, kalau Anda jadi akademisi di sana akan begitu; publikasi atau hilang.Tradisi itu kuat. Sebetulnya kita punya tradisi seperti itu,tapi akhir-akhir ini menghilang.

Terkait itu, apa yang menjadi pokok persoalan di Indonesia?
Dana,sumber daya,dan insentif untuk penulis yang tidak terlalu tinggi. Kalau di internasional tidak seperti itu.Jadi banyak yang serius.

Selain visi yang kuat, apa lagi yang diperlukan dalam membangun sebuah sistem?
Kita harus meniru bangsa China soal ini. Bangsa China membangun tembok besar 300 tahun lebih.Sebuah bangsa tidak akan menghabiskan waktu lebih dari 300 tahun untuk menata batu bata.Jika mereka menata batu bata 300 tahun lebih, berarti dia berasumsi bahwa bangsa ini akan eksis ribuan tahun.

Kalau tidak,tidak akan menghabiskan waktu 300 tahun untuk menata batu bata menjadi tembok. Sebuah perspektif panjang. Perspektif kita jangan (hanya) tiga atau empat tahunan, atau hanya memikirkan pilkada dan pemilu. Kalau universitas dibangun untuk mengantisipasi peluang pasar, yaitu sekadar menjajakan ijazah, kacau sudah.

Untuk melakukan yang besar dan jangka panjang, bagaimana caranya?
Kapan kita merasakan efeknya dari jangka panjang ini,harus sambil jalan. Kalau dalam bahasa resminya,namanya visi.

Belajar dari situ,universitas ini ingin punya visi jangka panjang yang dilakukan dengan bertahap dan benar.

Mimpi itu boleh-boleh saja asal kita tahu bagaimana mewujudkannya, kalau mimpi yang tidak boleh itu mimpi yang kita tidak tahu bagaimana mewujudkannya.Tapi, kalau kita tidak punya mimpi kolektif untuk jangka panjang, yang muncul adalah pesimisme karena kita tidak tahu mau ke mana.

Awal kemerdekaan para pemimpin menyebarkan optimisme yang sangat besar,padahal bangsa kondisinya memprihatinkan. Sementara sekarang ekonomi lebih baik, politik lebih terstruktur, kekuatan militer lebih baik, fasilitas lebih baik, tapi tidak ada optimisme kolektif. Hari ini hidup dalam pesimisme yang berlebihan. Bicara Indonesia akhirnya bicara keluhan.Menurut saya, kondisi ini harus dibalik agar muncul optimisme kolektif.

Saat ini rasa optimisme kolektif rapuh di kalangan masyarakat. Apa yang terjadi?
Bangsa ini sedang kaget. Dihantam krisis ekonomi, diiringi transisi politik, lalu kita serasa disoriented. Kita harus punya suasana yang membangun perasaan maju dan berkembang. Kita itu sering melihat gelas yang terisi air setengah dengan kacamata setengah kosong, bukan setengah isi.

Padahal,ini perspektifnya berbeda. Jadi, menurut saya,salah satu yang paling berpengaruh terhadap perspektif negatif ini adalah media masa. Coba Anda lihat media,berita,dan televisi.Kemudian, berikan tanda plus untuk berita optimistik dan tanda minus untuk berita pesimistik.Hampir pasti yang muncul lebih banyak minus.

Kalau begitu, perlu ada yang memandu optimisme kolektif itu?
Ya dan menurut saya adalah seorang pemimpin.Pemimpin harus membangun itu.Kemudian, ditopang media massa. Coba sekarang buka koran,halaman politik, lalu buka halaman bisnis.Mana yang optimistik, mana yang pesimistik? Halaman politik yang diekspos problem dan untuk bisnis yang diekspos adalah yang positif.

Kenapa bisa begitu? Kalau bisnis merencanakan sesuatu, pasti jadi berita. Kalau pemda yang merencanakan sesuatu, apa jadi berita? Nggakada.Maka, kenapa kita menghantami diri sendiri? Self-defeating namanya. Kita menghancurkan diri kita sendiri. Ada self-defeating mechanism. Bahkan, self-fulfilling profecy, kegagalan terjadi karena kita memprediksikan kita akan gagal.

Menurut saya, para pemimpin harus membangkitkan optimisme dan media harus menyebarkan optimisme. Sering kali karena semangat kita di zaman dulu keoposisian, ada kekhawatiran menjadi orang optimistis, berarti menjadi pendukung pemerintah. Ada kesan jika saya optimistis, berarti saya mendukung pemerintah. Padahal, menurut saya optimistis terhadap bangsa itu berbeda dengan mendukung pemerintah.

Indonesia sudah terbuka dan demokrasi sudah tumbuh, prediksi Anda Indonesia 5atau 10tahun ke depan?
Ini akan menjadi baik.Apabila desain institusi politik diperbaiki, demokrasi jadi lebih baik dan deliver untuk rakyat. Politik itu kan untuk menghasilkan policy yang berpihak pada rakyat. Maka, kenapa dibuat demokrasi agar kebijakan pemerintah sesuai dengan yang diinginkanrakyat.Aspek input-nya dari demokrasi sudah jadi, yaitu kebebasan berpolitik, tapi aspek output-nya yaitu praktik demokrasi yang menyejahterakan belum ada.

Apakah cukup waktu 5 tahun lagi untuk itu?
Tidak. Kita masih perlu 2 pemilu lagi. Masih butuh waktu. Ini pemimpin kita harus punya peran. (chamad hojin/rd kandi)

www.hmi-jogja.com, Senin, 28 April 2008